Hari yang Baik telah Tiba
Karya: Brigita Amanda / XII IPS 1
SMA Virgo Fidelis Bawen
Nama
aku Brigita. Aku saat ini berumur 17 tahun, lahir pada tanggal 19 Maret 2003.
Aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayah aku bernama Robertus. Ayahku
bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik kayu lapis. Ayah lahir pada tanggal 1
Juni 1969. Ibu aku bernama Jasmine. Ibu bekerja sebagai karyawan di PT
Visionland. Ibuku lahir pada tanggal 30 April 1970. Ayah dan Ibu aku menikah
dan dikaruniai anak laki-laki pertama yang bernama Krisnawan yang merupakan
saudara laki-laki aku. Kakakku sudah bekerja di sebuah hotel di Semarang. Saudara
laki-lakiku ini lahir pada tanggal 2 Dessember 1996, kami berdua memiliki
perbedaan umur sebanyak 7 tahun.
Aku
memiliki hobi menyanyi, menggambar, dan berolahraga bulu tangkis. Namun, satu
hobi aku sukai dulu adalah menggambar. Aku sekarang merupakan pelajar di SMA
Virgo Videlis Bawen. Pada saat aku berumur 5 tahun atau lebih tepatnya saat saya di Taman
Kanak – Kanak. Aku sering mengikuti lomba menggambar, menari dan menyanyi atau
paduan suara. Namun sayangnya saya belum bisa meraih juara, dan aku juga tidak
patah hati karena itu akan menjadi pengalaman berharga bagi aku.
Senang
sekali aku bisa diajari bagaimana mewarnai dengan baik dan benar oleh Bu Retno.
Menurutku, dia guru yang tiada duanya karena sangat rendah hati dan bijaksana.
Bu Retnolah yang selalu memperhatikan ketika aku mewarnai sebuah gambar jangan
sampai mengenai garisnya. Ia membimbingku dalam menggoreskan warna-warna
gradasi agar tampak menarik dan nyata. Disaat teman-teman yang lain mengikuti
pelajaran aku malah disuruh untuk belajar mewarnai. Aku pun senang
melakukannya. Satu kata yang sampai saat ini aku masih ingat, Bu Retno dan Bu
Isa, wali kelasku itu selalu memberikan pujian kepadaku bahwa aku adalah orang
yang ‘telaten’ dalam mewarnai gambar.
“Anak
ini telaten ya mewarnai gambarnya.” ucap Bu Retno.
“Iya
memang telaten orangnya.” sambung Bu Isa.
Aku
yang saat itu sedang melakukan pekerjaanku, cukup mendengar perkataannya saja
membuatku merasa tersanjung namun juga tetap fokus dalam mewarnai gambar. Dari
situlah aku menjadi semangat mewarnai dan juga gemar menggambar.
Masuk
Sekolah Dasar tepatnya pada tahun 2009, membuat diriku penasaran dan timbul pertanyaan-pertanyaan
bagaimana keadaan dalam lingkungan Sekolah Dasar nantinya. Sebelum awal masuk
sekolah tentunya mendaftarkan diri dengan berbagai adsministrasi dan
persyaratan lainya yang waktu itu aku diantar oleh Ayah, sekalian ke sekolah
agar bisa melihat seperti apa suasana
sekolah. Berbagai persiapan dan perlengkapan pun akhirnya sudah terpenuhi dan
tinggal menunggu waktu saja dan tanggalnya untuk masuk hari pertama memulai
pembelajaran baru dalam sekolah baru dengan suasana baru juga.
Kurang
lebih 2 minggu setelah pendaftaran akhirnya sampailah pada waktu dimana waktu
itu aku telah masuk ke sekolah baru di sekolah dasar di SD Negeri Karangjati 03
namanya. Pertama kalinya mengenakan seragam baru merah putih dengan bangga dan
senang gembira serta semangat aku bergegas memulai aktifitas ke sekolah baru. Hari
itu hari senin tepatnya. Seperti pada umumnya, awal masuk sekolah dan kelas
baru setelah liburan, atau baru pertamakali masuk sekolah, dimulailah
hari senin. Pagi hari selesai persiapkan bekal, berangkatlah aku ke
sekolah bersama Ayahku.
Aku
memiliki kejadian yang memalukan pada waktu di sekolah. Ketika kelas 2 SD aku menggunakan
sepatu kakakku, entah kenapa pada waktu itu aku hanya ingin menggunakan sepatu
kakak yang sudah lama tidak terpakai. Ketika tanda bel sudah berbunyi menandakan
bahwa waktunya pulang, aku terdiam ditempat dan merasa ada yang aneh di sepatu
yang aku pakai. Aku selalu menapakkan kaki saya dan tidak mengangkatnya. Guruku
pun bertanya padaku
“Kenapa kamu belum juga pulang? teman-teman sudah
pulang semua” ucap guruku.
Aku
pun menjawab, “Iya, Bu tidak apa-apa lagi nunggu sebentar”
Pada
saat aku mengangkat kaki, sol sepatunya ternyata lepas. Aku takut sekali jika diejek
jika aka temanku yang melihat. Setelah itu aku pulang dengan kepala menunduk
dan tidak memakai sepatu itu.
Pada
saat Sekolah Dasar aku pernah mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan
dari guru-guruku. Dimana pada saat itu aku yang masih kelas 2 pulang sekolah
lebih awal dari pada kelas 3 sampai 6. Setiap pulang sekolah aku selalu
menunggu sepupu perempuanku yang waktu itu kelas 3 di depan aula sekolah.
Sepupuku itu bernama Lala. Terkadang aku takut jika pulang sekolah sendirian
karena jalan menuju rumahku itu sangat sepi. Meski bosan harus menunggu Lala
pulang jam 12 tetapi tetap aku lakukan karena kalau di jalan ada teman bisa
diajak mengobrol dan tidak sendiri lagi, disatu sisi di sekolah juga ada teman
sekelas aku namanya Sherli.
Aku
sama Sherli ini sudah bisa dibilang dekat dan kita juga seperti sahabat. Sering
sekali aku bermain bersama dia waktu sepulang sekolah. Sherli ini anaknya baik
waktu dulu aku kelas 1 SD aku pernah dikasih hadiah kalung Rosario. Bahkan jika
dihitung sudah tiga kali dia kasih aku kalung itu. Aku senang sekali teman aku
peduli terhadap aku bahwa agama aku Katolik dan dia Islam, hal itulah yang
membuat diriku salut kepada Sherli. Sherli pernah memberiku kalung itu di depan
kelas ketika bel belum berbunyi, Ibunya Sherli yang bernama Bu Eli guru kelas 3
juga ada di situ dan menyuruhku memakai kalung Rosario pemberian Sherli.
“Coba
dipakai kalungnya” ucap Bu Eli.
“Haa
hmm..” ucapku karena malu dilihat teman-teman yang lain.
“Ya,
dipakai dulu kalungnya coba tak lihat”
“Iya
iya.., Bu” ucapku sambil dipakaikan oleh temanku.
Kalung
Rosario itu seukuran kecil jadi jika dipakai pas melewati kepala agak
terhambat. Aku bangga karena aku mempunyai sahabat yang baik seperti Sherli.
Tetapi
ada masa dimana kita sedang tidak damai dalam pertemanan. Waktu itu aku dan
Sherli sedang jajan di luar dan jajanan itu kita makan di depan aula sembari
aku menunggu sepupuku. Kita saat itu sedang jajan ‘leker’ aku membeli dua, lalu
ada guru yang datang. Namanya Bu Nini, dia bilang padaku bahwa makanan jika
terbungkus kertas koran itu tidak baik sambil melihat leker dengan bungkus
kertas koran yang sedang aku makan. Tetapi aku tidak memperdulikan itu.
Beberapa saat Sherli menghampiri aku, dia menuyuruhku untuk membelikan minuman,
tetapi aku tidak mau karena banyak siswa yang mengantri untuk membeli minuman
itu. Sempat berdebat sedikit dan saling cemberut.
“Eh
belikan aku minuman dong” ucap Sherli.
“Aku
tidak mau, di sana ramai.” ucapku.
“Ihh
cepat dong kamu belikan aku minuman”
Aku pun menjawab “Ya
aku tetap tidak mau, kenapa gak kamu sendiri yang
membelinya.”
“Awas ya kamu!” ancam
Sherli.
Setelah
itu Sherly mengajak adik kelas, anak
guru yang bernama Rere, tiba-tiba Sherli ini mengambil tasku untuk dibawa di
dalam aula. Tasku itu dibuka dan segala yang ada di dalamnya dikeluarkan semua,
entah buku, pensil warna, kotak pensil dan lain-lain. Sherli dan Rere
mengancamku akan mengambil kotak pensil kesayanganku jika aku tidak mau
membelikannya minuman.
“Eh ada penghapus bagus
nih, aku ambil ah” ucap Sherli yang mengambil penghapus
princessku yang ada di kotak pensil.
“Ihh gambarnya
bagus-bagus aku ambil ah” ucap Rere sambil membuka lembaran
buku gambarku.”
Pada
saat itu, yang ada di pikiranku hanyalah takut dan takut karena aku orangnya
pendiam.
Aku
pikir Sherli dan Rere hanya bercanda dan masih mempunyai rasa kasihan namun
ternyata tidak. Saat ada tukang kebun yang bernama Koko sedang membakar sampah
disitulah Sherli dan Rere beraksi. Mereka tega sekali mengambil pensil warnaku
yang harganya masih cukup mahal pada tahun itu karena pendapatan orang tua juga
sedang terhambat. Kemudian mereka membuang pensil warnaku ke api. Mungkin itu
hanya perkara soal pensil warna, tetapi pensil warna itu dibelikan oleh ayah
aku dan aku merasa itu sangat berharga.
Aku
berharap sekali ada guru yang datang dan mengetahui hal ini. Namun terlambat
guru yang bernama Bu Nini itu hanya berkata
“Itu
tas kamu kok ada di lantai.”
“Iya,
Bu.” ucapku sambil meringis sedikit.
Hatiku
sangat terpukul karena melihat kejadian itu. Aku orang yang lemah hingga tidak
bisa berkata-kata lagi apalagi memarahi temanku yang sudah melakukan semua itu
kepadaku. Dadaku terasa sakit karena menahan tangis yang tak berkesudahan.
Akhirnya bel pulang sekolah untuk
kelas 3 sampai 6 sudah berbunyi itu artinya sepupuku akan segera pulang. Dan
aku pun sudah tidak tahan lagi ingin meluapkan semua air mataku ini. Aku lalu
bertemu dengan Lala dan pulang bersama. Disitulah air mataku yang tidak bisa
lagi tertahan tumpah semua. Aku mencoba untuk berbicara dengan Lala tetapi
tidak bisa. Aku sesenggukan menangis hingga tak bisa menjelaskan apapun kepada
Lala.
“Hey! Kamu itu kenapa?” ucap Lala.
Disaat
itu aku pun menjawab
“Tadi..
tadi pensil warna ku dibuang dan dibakar sama Sherli.” ucapku sambil menangis semakin keras.
“Sudahlah..
sudah menangisnya, nanti kalau sampai di rumah lebih baik lapor saja
dengan Ayahmu.” ucap Lala sambil
menenangkan aku.
Sesampainya di rumah,
tanpa mendua hati aku pun langsung mengatakan semua keresahanku kepada Ayahku
bahwa aku diperlakukan jahat oleh temanku dimana temanku itu adalah anak dari
seorang guru. Ayahku yang baru saja pulang dari kerja itu langsung mengerti aku
dan akan segera ke sekolah untuk menghampiri ibunya Sherli dan menyelesaikan
masalah ini agar perbuatan Sherli tidak terulang lagi.
Selang beberapa hari, saat
jam pelajaran Bu Eli menghampiri kelas ku dan ternyata dia mencari aku. Aku pun
kaget karena kedatangannya membuat suasana kelas menjadi sunyi dan semua pandangan
temn-temanku mengarah ke aku. Bu Eli pun lalu mulai berbicara kepadaku
“Kemarin Ayah kamu
menemui saya di sekolah, Ayahmu bilang bahwa pensil warna kamu telah dibakar oleh
Sherli, tetapi yang melakukan itu bukan Sherli tetapi Dik Rere.”
Dalam hati aku merasa ada kebohongan
dalam kejadian ini. Sherli pasti takut lalu bicara bohong dengan ibunya, aku
tahu ibunya itu sangat galak dan jika Sherli berkata jujur maka dia akan
dimarahi oleh ibunya sendiri. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, memang
iya yang melempar pensil warna ke api itu Rere, namun jika bukan karena
perintah Sherli maka Rere tidak akan melakukannya.
“Sebagai
gantinya ini saya beri pensil warna yang baru sebagai gantinya,” ucap Bu
Eli
sambil memberikan pensil warna itu
kepadaku dengan raut muka yang muram.
Aku lalu menerima
pensil warna itu. Entah kenapa ketika Bu Eli berbicara tentang hal ini
seakan-akan anaknya tidak mau disalahkan. Tatapan teman-temanku di kelas
semuanya nampak heran. Seakan akan malah aku yang salah, dikira menuduh yang
tidak benar. Memang keberadaan anak guru selalu dibela di sinilh aku merasa
tidak ada keadilan. Setelah peristiwa ini berlalu aku dan Sherli tetap berteman
namun jika bertemu atau berhadapan dengan Bu Eli hatiku merasa tidak tenang.
Mungkin karena dia tidak menyukai diriku karena kejadian di masa lalu. Setelah
aku pikir-pikir Sherlilah sahabat pertamaku di masa sekolah namun sayangnya dia
punya sisi keburukan yang sampai saat ini tidak bisa aku lupakan. Memang
manusia tidak ada yang sempurna
Pada
saat aku kelas 6 Sekolah Dasar aku juga mempunyai dua orang sahabat namanya
Anggi dan Ami. Persahabatan ini berawal pada saat kita menyukai sebuah serial
drama yang sama, pada saat itu kita saling bercerita tentang apa yang kita
tonton dan bersenang-senang bersama. Karena saking dekatnya kita, kita
seringkali belajar kelompok bersama dengan cara bergilir dari rumah satu per
satu diantara kita. Kebanyakan dari kita hanya mengerjakan tugasnya hanya
setengah setelah itu bercerita tentang serial drama yang kita sering tonton.
Diantara kita bertiga memang ada salah satu orang yang sifatnya agak sensitif
dan gampang tersinggung. Namanya Ami, entah kenapa setelah lama kita berteman
terkadang Ami inilah yang sering memusuhi diriku hingga membuat Anggi juga ikut
menjauhi aku.
Sekolah
Dasar adalah masa di mana aku tidak pintar dan masih pemalu sekali. Setiap ada
tugas aku selalu ke rumah temanku untuk menyalin jawabannya. Bahkan ketika
pelajaran di sekolah pun aku tidak bisa mengerjakannya seorang diri entah
karena soal itu susah atau aku sendiri yang tidak bisa memahami soal. Agar
tugasku selesai mau tidak mau aku harus mencontek kepada temanku. Ada salah
satu temanku yang jika aku menconteknya dia bersikap biasa saja dan tidak
keberatan tetapi ada juga teman yang lain malah marah kepadaku karena aku
melihat pekerjaannya.
Hingga
aku meminta kepada Ayahku supaya dileskan dengan guru. Temanku nampaknya senang
bila aku bisa bergabung satu les dengan mereka, disaat aku bimbang membuat
keputusan temanku itu berkata-kata manis padaku jika di tempat les mereka itu
menyenangkan.
“Ayo ikut les saja,”
kata Shana.
“Di sana itu enak, kamu
bisa dikasih makanan sama gurunya, di sana juga aku bisa menjadi paham materi
di sekolah,” kata Mela.”
“Iya ayo dong ikut les
bersama kami,” ucap Titi.
Aku ingin sekali
seperti teman-temanku yang les dan mereka berhasil saat mengerjakan tugas
bahkan pada saat ulangan tengah semester beberapa temanku yang ikut les mereka
saling bersaing mendapatkan nilai yang tinggi. Akhirnya Ayahku setuju supaya
aku ikut les.
Yang ada dibayanganku
ketika aku ikut les, aku menjadi bisa dan bertambah ilmu. Tetapi apa yang
terjadi pada hari pertama aku mengikuti les. Guru les langsung memberikan soal.
Selama satu jam setengah aku pangku tangan karena tidak bisa mengerjakan. Aku
merasa kecil hati karena menjawab satu pertanyaan pun tidak bisa. Sedangkan
temanku yang ada di sana sedang sibuk mengerjakan soal semuanya. Ada salah
seorang teman yang duduk di sebelahku, dia malah menutupi pekerjaannya supaya
tidak terlihat olehku. Di sisi lain ada teman yang sudah selesai mereka malah
berbincang-bincang sendiri tanpa turun tangan supaya aku juga bisa selesai
mengerjakannya. Sempat gigit jari dengan mereka namun aku hanya diam termenung.
Saatnya pulang les pun
tiba, aku merasa lega karena suasana yang kurang enak tadi bisa cepat hilang.
Di sana kami menata kursi dan melipat karpet yang tadi dipakai. Setelah itu,
berkatalah guru les yang bernama Bu Miki ini berkata kepadaku.
“Bri, besok kamu
berangkat lebih awal ya!” ucap guruku.
“Dia itu tidak paham
apa-apa sama sekali lo,” katanya sambil menoleh dengan yang lain.
Semua anak-anak di sana tertegun dan
saling diam. Di sana seakan akan akulah anak yang paling bodoh. Aku mengikuti
les sebanarnya untuk batu loncatan supaya aku semakin pintar namun yang aku
dapatkan malah perkataan yang kurang menyenangkan hingga pulang dari les aku
hanya hampa tangan.
Aku
selalu bermimpi dan berharap bahwa suatu saat nanti aku pasti bisa menjadi
orang yang pintar supaya orang-orang terutama temanku terbuka matanya dan tidak
lagi meremehkan kemampuanku. Dan waktu itu telah tiba, masa yang baik telah
datang, dimana pada saat aku masuk ke Sekolah Menengah Atas. Sekolah itu telah
mengajarkanku banyak hal dan mengubah hidupku menjadi lebih baik. Di masa SMP
ini aku bisa menemukan cara belajar yang baik aku mendapatkan pelajaran yang
bermakna dari setiap guru-guru yang mengajar dan ini mampu mempengaruhi
pikiranku. Aku menjadi semakin rajin dan jauh dari kata mencontek. Dari SD aku
tidak pernah mendapatkan peringkat dan bisa dibilang orang yang malas belajar,
sampai akhirnya di SMP ini aku bisa masuk 10 besar. Dari peringkat 8 lalu
melaju menjadi peringkat 4 pada waktu kenaikan kelas.
Komentar
Posting Komentar